MAGELANG – Musim kemarau tahun ini membawa dampak yang semakin nyata bagi masyarakat Kabupaten Magelang. Kekeringan yang semula identik dengan sejumlah wilayah langganan krisis air kini meluas hingga kawasan perbukitan dan lereng gunung. Sebanyak 19.717 warga dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat, krisis tersebut telah menjangkau 13 kecamatan, dengan total 4.913 kepala keluarga terdampak. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan air bersih semakin mendesak dan membutuhkan penanganan lintas sektor.

Staf Logistik BPBD Kabupaten Magelang, Affan Riska Wibowo, mengungkapkan bahwa cakupan wilayah terdampak pada tahun ini lebih luas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kekeringan lebih banyak terjadi di kawasan Borobudur dan Salaman, kini dampaknya merambah Pakis, Tegalrejo, Ngablak, hingga Kaliangkrik yang berada di kawasan lereng gunung.

Meluasnya wilayah terdampak membuat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi tantangan tersendiri. Air yang biasanya mudah diperoleh kini harus diupayakan melalui distribusi bantuan dari pemerintah dan berbagai unsur terkait.

Dampak kekeringan juga tidak hanya dirasakan di lingkungan rumah tangga. Sejumlah fasilitas pendidikan ikut mengalami keterbatasan pasokan air, di antaranya SD Paripurno di Salaman, SD Wulunggunung di Sawangan, serta sejumlah pondok pesantren.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBD Kabupaten Magelang bersama Palang Merah Indonesia (PMI), TNI, Polri, dan berbagai kelompok relawan terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang membutuhkan. Upaya ini menjadi langkah penting untuk menjaga agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah terbatasnya sumber air.

Namun, meluasnya krisis air bersih menjadi peringatan bahwa persoalan kekeringan tidak cukup ditangani hanya dengan mengirimkan air menggunakan mobil tangki. Pemetaan wilayah rawan, identifikasi sumber air alternatif, serta penguatan sarana penyediaan air bersih perlu menjadi perhatian agar masyarakat tidak terus menghadapi persoalan serupa setiap musim kemarau.

Di tengah kondisi tersebut, kecepatan penanganan dan koordinasi antarpihak menjadi kunci. Bagi warga terdampak, air bersih bukan sekadar bantuan darurat, melainkan kebutuhan mendasar untuk menjaga kesehatan, menjalankan aktivitas sehari-hari, dan mempertahankan kehidupan secara layak.

Kekeringan yang kini menjangkau hingga lereng gunung menjadi pengingat bahwa persoalan air bersih di Kabupaten Magelang membutuhkan solusi yang berkelanjutan, bukan sekadar respons ketika krisis telah meluas.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *